Bersabar dan Tetap Semangat Dalam Menapaki Jalan Kebaikan
ARKADIGITAL.ID | Kajian - Kajian pekanan pertama kali ini mengambil tema "Bersabar dan Tetap Semangat Dalam Menapaki Jalan Kebaikan" kajian ini berkaitan dengan ayat 4 dalam surat Al Balad. Dalam ayat tersebut memiliki arti "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah"
..........
Bersabar dan Tetap Semangat Dalam Menapaki Jalan Kebaikan
Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu contoh yang baik dan menjadi keteladanan bagi kita semua, karena dalam diri Nabi SAW, Allah SWT telah jadikan ia sebagai suri tauladan, sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surat Al Ahzab ayat 2.
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS. Al Ahzab : 21).
Adalah wajar jika nabi menjadi rujukan berkaitan dengan keteladanan, karena sejarah telah mencatat betapa banyak akhlak mulia yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-harinya, setidaknya menurut KH. Athian Ali yang dilansir dalam Republika Online (25 Desember 2015) menyebutkan ada 5 Akhlak Rasulullah SAW yang dapat menjadi suri tauladan bagi kita semua. Kelima akhlak Nabi tersebut meliputi :
Pertama, Mencintai Allah SWT Melebihi Cintanya kepada selain-Nya. Hal ini yang diajarkan nabi kepada para sahabat pada waktu itu "Adapun orang-orang yang
beriman sangat cinta kepada Allah"(QS. Al Baqarah, 2:165). Cinta kita
kepada Allah SWT melebihi cinta kita kepada selain Allah SWT harus dibuktikan sebagai bukti keimanan kepada-Nya. Seorang mu'min, tidak akan
mungkin mencintai sesuatu di dunia ini jika sesuatu itu tidak dicintai oleh
Allah SWT.
Kedua, Memiliki sifat Sangat Di Percaya “Al Amin” . Beliau berhasil mengajarkan konsep "Al Ihsan" ini kepada
para sahabat. Yakni, berbuat baik itu adalah
kita melakukan sesuatu pengabdian kepada Allah seakan-akan kita melihat Allah,
kalau pun kenyataannya tidak bisa melihat Allah kita yakin betul bahwa Allah
itu melihat kita.
Ketiga, Memiliki sifat lemah lembut dalam keluarga. Akhlak nabi dalam keluarga dikenal sangat
lemah-lembut terhadap istrinya bila saatnya memang harus lemah-lembut. Begitu juga sifat beliau keras
dan tegas pada saat beliau memang harus keras dan tegas. Beliaulah yang menerjemahkan firman Allah surah An Nisaa' ayat
19 di mana Allah memerintahkan kepada para suami, “Dan pergaulilah istrimu
dengan cara yang baik, jika engkau dapati pada diri istrimu itu ada watak dan
tabiat yang kurang berkenan di hatimu bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai
sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.
Keempat, Akhlak Nabi di Masyarakat, Nabi sangat mencintai orang lemah yakni orang-orang
yang sangat membutuhkan perhatian dan pertolongan termasuk orang-orang yang
lemah dalam sisi harta. Nabi dikenal orang yang sangat
"rendah hati" bukan "rendah diri". Sebagai seorang muslim
tidak boleh memiliki rasa rendah diri terutama di hadapan orang-orang kafir. Rasulullah SAW dikenal sangat
rendah hati di hadapan sesama Muslim, tetapi di hadapan orang-orang kafir
beliau sangat keras terlebih kepada golongan kafir harbi. “Muhammad
adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka’ (QS. Al Fath,
48:29).
Kelima, Memiliki Sifat Sabar dalam menghadapi ujian, cobaan dan tuduhan yang ditimpakan kepadanya. Perjuangan Rasulullah Saw di awali dengan perang urat
syaraf, awalnya orang-orang Jahiliyah yang menentang Rasul menggunakan taktik
psikologis dengan memadamkan semangat juang Rasul Saw dengan melemparkan
bertubi-tubi ejekan (QS. Al Israa', 17 : 90-93). Setelah ejekan-ejekan tidak
berhasil, mereka melemparkan tuduhan palsu dengan menyebarkan desas-desus bahwa
beliau adalah ahli nujum, gila, ahli syair dan tukang sihir (QS. Ath
Thuur, 52 : 30-33). Setelah semua gagal maka pendekatan mereka melalui wanita, harta
dan tahta. Langkah ini pun tidak berhasil. Maka langkah pembunuhan diri Rasul
Saw mulai mereka rancang, langkah ini pun gagal pula. Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir
(Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan
memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan
Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya”
( QS. Al Anfaal, 8 : 30)
Melihat akhlak baik yang telah di contohkan oleh Rasullah SAW terutama dari
sisi karakternya merupakan sebuah contoh dan keteladanan yang baik bagi kita semua. Akhlak baik yang dapat dijadikan contoh untuk Anak-anak kita menjadi perhatian yang serius bagi kita. Contoh baik yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW seharusnya menjadi pelajaran bagi kita terutama tentang karakter, budi pekerti dan moralitas. Hal ini merupakan penting yang harus menjadi perhatian utama oleh orang tua untuk diterapkan pada
diri anak-anak kita saat ini.
Dalam perjalanan dakwah yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW, sekalipun ia memiliki akhlak mulia yang diterapkan di lingkungannya, tetap saja ujian dan cobaan selalui ia hadapi. Namun nabi tetap menjalaninya dengan kesabaran setiap ujian yang dilaluinya. Allah SWT dalam ayat 4 surat Al Balad memberikan gambaran bahwa sesungguhnya setiap manusia itu akan selalu menghadapi dan berada dalam susah payah. "Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (QS. Al Balad : 4).
Pada ayat lain dalam surat Al Balad tersebut Allah telah menjanjikan kemenangan atas Kota Mekkah, hal ini menunjukan bahwa Nabi meskipun saat sebelum dilakukan penaklukan Mekkah beliau menerima hinaan, cacian, makian bahkan ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh Kafir Quraisy tapi pada akhirnya nanti Rasulullah SAW akan menaklukan kota tersebut dan menjadikan kota mekkah sebagai tempat yang halal bagi Nabi untuk melakukan apa saja. Semua janji yang telah Allah sampaikan kepada Nabi semuanya terbukti dengan ditaklukannya Mekkah oleh Nabi. Padahal Nabi pernah dianggap halal
darahnya oleh orang-orang kafir qurais yang menguasai Mekkah saat itu, sehingga mereka berusaha untuk mencelakakan Nabi setiap saat.
Sifat Kafir Quraisy merupakan karakter orang-orang yang ingkar kepada Allah SWT dalam menghalangi, menghambat lajunya dakwah yang dilakukan Nabi dan para Sahabat dalam menyeru kebaikan kepada Allah SWT. Karaktter yang sudah ada sejak dahulu tersebut sampai saat ini masih ada, sehingga jangan heran ketika ada satu kondisi dimana para penyeru kebaikan dihambat dan dihalangi. Namun sesuatu yang dilakukan mereka untuk menghambat dan menghalangi tidaklah mudah dalam menjalankan misinya. Sebagaimana kesusahan yang dihadapi kaum muslimin, mereka juga mengalami kesusahan tersebut, bahkan mereka justru memiliki kesusahan yang sangat besar. Mereka bersusah payah 24 jam dalam menata dan mengatur untuk melakukan penghambatan. Kesusahan yang dilakukan mereka dalam berbuat kedzholiman seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa dalam memelihara keimanan dan melakukan kebaikan tidaklah mudah, pastinya akan ada kesusah payahan,
sebagaimana yang mereka lakukan jauh lebih susah.
Ketika mereka susah kita susah, mereka payah kita payah akan tetapi yang membedakan antara seorang muslim dan kaum kafir adalaha di jalan seperti apa kesusahan itu, dijalan seperti apa berpayah-payah tersebut. Satu hal yang harus kita ingat bahwa kepayahan
ini laksana kita mendaki, jika kita hendak mendaki menuju puncak. Maka pendakian yang akan kita lakukan tidak semudah kita berjala di jalan yang datar melainkan mendaki itu perlu skill, perlu kekuatan, daya tahan fisik , dan mentalpun haruslah kuat agar tidak mudah "terprovokasi" manakala melihat tanjakan langsung melemahkan seluruh fisik.
Jangan mengira setiap kesusahan yang kita lakukan tidak terjadi pada mereka, justru mereka juga sama halnya mengalami kesusahan bahkan jauh lebih susah bagi mereka. Oleh karena itu perlu kekuatan dan kesabaran dalam
diri kita, kekuatan yang perlu kita miliki bukan hanya fisik tapi ruhaniah perlu juga di lakukan pengisian (charging) setiap waktu. Kehadiran di majelis-majelis ilmu merupakan bagian dalam mengisi ruhaniah sehingga kedepannya memiliki kesiapan mental dan pemahaman yang benar sebelum melakukan tindakan.
Untuk hadir dalam setiap kajian di majelis ilmu itu juga tidak mudah, ia memiliki kesusahan yang teramat berat. Ujiannya banyak, bisa karena pekerjaan, keluarga maupun hal lain yang terkadang ada saja yang membuat kita tidak bisa menghadiri setiap majelis ilmu tersebut. Jarak saat ini bukan lagi persoalan, selain di musholla dan masjid-masjid yang melaksanakan kajian keilmuan sudah banyak saat ini juga sekarang sudah banyak kajian yang berbasis online.
Untuk dapat hadir disebuah majelis keilmuan dibutuhkan juga sebuah pengorbanan misalnya saja kita sudah tahu ada jadwal majelis di sebuah musholla atau masjid atau kajian online, lalu tiba-tiba saja di hari yang sama ada agenda pekerjaan belum selesai, maka saat itulah kita akan melihat seberapa jauh pengorbanan tersebut untuk tetap hadir pada majelis. Dan kehadiran di setiap majelis sejatinya bukan sekedar untuk mendapatkan materi keilmuan melainkan ada hal lain yang dapat diambil misalnya saja untuk menunaikan janji bersama dalam melakukan perjumpaan, meskipun kegiatan kajian yang di ikuti tidaklah lama. Bisa saja hanya berdurasi setengah jam atau paling lama satu jam.
Namun meskipun sesaat saja materi / nasehat yang didapatkan ada hal lain yang memiliki nilai tersendiri dalam kehadiran di majelis, yaitu bagaimana mampu memelihara semangat ruhiyah agar selalu terjada, kalau ruhaniah kita senantiasa terjaga tentu saja akan memberikan pengaruh
yang positif bagi lingkungan disekitar kita. Terutama pada orang-orang yang dekat dengan kita, pada istri kita, pada anak
kita. Kalau kondisi ruhaniah kita menurun maka akan berpengaruh pada sikap dan karakter kita, misalnya saja akan mempengaruhi omongan kita, pilihan kata-kata kita, lirikan mata kita dan seterusnya. Betapa pentingnya menjaga ruhaniah untuk kebaikan semuanya, oleh
karenanya hal ini perlu terus diupayakan di jaga untuk selalu rutin mengikuti setiap
pertemuan dalam kajian-kajian keilmuan.
Bagaimana mungkin kita mampu meneladani Nabi dengan akhlak-akhlak yang mulia, jika kita sendiri tidak mampu dan mau untuk menghadiri majelis-majelis keilmuan yang ada disekitar kita. Padahal dalam setiap majelis tersebutlah kita akan diingatkan, ditegur baik langsung maupun tidak dan pastinya akan menambah keilmuan tentang apa yang boleh dan tidak serta apa yang baik dan buruk. Dalam setiap majelis tentunya kita akan memiliki satu ikatan yang kuat, sehingga melahirkan Sakinah, jika sudah memiliki satu ikatan yang kuat maka jika ada tantangan kedepannya terasa ringan untuk tetap berangkat karena darinya sudah lahir sikap rasa cinta dan suka untuk menghadiri majelis ilmu tersebut.
Dalam lanjutan ayat di surat Al Balad juga disinggung tentang menapak atau menanjak
itu berat, berat dalam hal ini membebaskan budak karena saat ini banyak yang dikekang oleh hawa nafsu dan oleh karenanya kitapun harus mampu untuk membebaskannya. Hal lain, misalnya saja berat dalam memberikan bantuan / pertolongan, maka dibutuhkan sikap kepedulian terhadap sesama. Terutama saat dalam kondisi pandemi,
kondisi alam yang sering terjadi bencana, misalnya saja gempa dan banjir. Sebagai contoh misalnya dalam sebuah kejadian Banjir, bisa jadi yang jadi korban banjir bukanlah orang miskin. Ia mampu membeli makanan semahal apapun, namun karena kondisi banjir yang membuat ia terkurung. Maka saat itulah perlu kiranya ada
kepedulian yang dapat kita lakukan untuk mereka yang terkena musibah.
Banyak cara jika kita mau untuk membantu, misalnya menjadi relawan di lembaga sosial atau bisa juga mendatangi kelurahan atau posko untuk menghubungkan agar korban segera terselamatkan. Kemudahan ini kadang terasa berat oleh kita, padahal seharusnya sebagai muslim hal ini harus menjadi prioritas utama dalam membantu. Karena segala kepayahan dalam melakukan kebaikan-kebaikan Insya Allah akan menghantarkan kita pada tujuan akhir, menghantarkan kita pada terminal akhir yaitu Surga disisi Allah SWT. Wallahualam.
Oleh : Tubagus G Arkadi
Sumber : Materi kajian pekanan, Republika dan portal tafsir Qur'an.
